Saturday, November 14, 2020

KONEKSI ANTAR MATERI : Sintesis Pengetahuan ( Nilai dan Peran Guru Penggerak )

 

           Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Dengan maksud agar segala unsur peradaban dan kebudayaan tadi dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya.Dan dapat kita teruskan kepada anak cucu kita yang akan datang.

~ Ki Hajar Dewantara




             Dalam Program Pendidikan Guru Penggerak, sudah mempelajari Modul 1.2 yaitu tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Dalam Modul 1.2 ini kita sebagai Guru penggerak akan mengeksplorasi mengapa dan bagaimana nilai-nilai diri dari seorang guru terkait dengan penumbuhan dan pelestarian budaya positif.  Dunia kini sudah semakin tanpa batas, teknologi telah berhasil menghilangkan jarak. Pertukaran budaya baik yang positif maupun negatif kini menjadi sukar terawasi dan tanpa filter.

            Filter tersebut diharapkan dapat ditumbuhkan sejak dini dalam setiap diri manusia Indonesia agar budayanya tidak tergerus oleh budaya lain yang lebih agresif melakukan penetrasi. Oleh karena itu, sebagai pendidik, kita dipaksa untuk berpikir kembali mengenai makna dan tujuan pendidikan kita. Pendidikan adalah suatu hal yang sifatnya individual sekaligus komunal yang tak terpisahkan. Murid di kelas-kelas kita adalah bagian dari sebuah komunitas di rumah, di masyarakat, dan di lingkungan. Memertimbangkan kesalingterhubungan dan kerumitan tersebut, maka sebagai pendidik mau tidak mau kita harus menilik kembali apakah nilai-nilai diri kita telah selaras dengan tuntutan zaman dan alam yang seperti itu.

Adapun profil kompetensi yang ingin dicapai  adalah Calon Guru Penggerak mampu:

  1. mengartikulasikan nilai-nilai bersama dari Guru Penggerak (GP) dalam membangun identitas nasional dan memberdayakan komunitasnya.
  2. memahami dan menunjukkan kesediaan untuk mempraktikkan peran-peran GP.
  3. menerapkan prinsip-prinsip pengembangan dalam menggerakkan komunitas.

Kita juga diharapkan dapat menjadi guru penggerak yang mampu:

  • Merumuskan nilai-nilai diri yang selaras dengan upaya penumbuhan murid merdeka.
  • Membuat rencana perubahan diri yang akan mendukung penguatan nilai dan peran mereka sebagai guru penggerak,
  • Menginternalisasi nilai-nilai diri dan perannya sebagai guru penggerak untuk mewujudkan komunitas pembelajar sepanjang hayat yang positif dan merdeka.

        Keterkaitannya anatara Modul NIlai dan peran Guru penggerak dengan Modul Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara, diantaranya menyusun konsep Pendidikan yang Merdeka, dan berpihak kepada anak. supaya anak dapat berkembang sesuai dengan kodratnya. dan seorang guru berupaya untuk menumbuhkan murid yang merdeka. tanpa adanya paksaan dari siapapun. supaya mereka dapat berkreasi dan berinovasi, serta dapat berimajinasi seiring dengan murid berpikir kritis. dan Guru bertindak sebagai mentoring dan coaching. selain itu, peran seorang guru penggerak mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. sejalan dengan trilogi pendidikan yaitu Ing Ngarsa sung Tuladha, Ing Madya mangun Karsa, Tutwuri Handayani.


Salam Guru Penggerak

Merdeka Belajar


Asih Andriyani- CGP Angkatan 1 Kabupaten Cilacap


Tuesday, November 3, 2020

AKSI NYATA Penerapan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara di Kelas dan Sekolah

PGP-1-Kabupaten Cilacap-Asih Andriyani-1.1-Aksi Nyata


Latar Belakang

Sebagian Peserta didik belum lancar dalam                     

hal membaca dan menulis. Sehingga dalam                   

Pembelajaran berfokus kepada literasi.                           

Dengan mengangkat kearifan local. Sehingga                

Anak juga mempunyai kemandirian dan                         

Kecakapan hidup serta ketrampilan.                                


Tujuan                                                                                          

- Meningkatkan pembelajaran berbasis                         

  Aktifitas membaca,menulis,berbicara.

  Sehingga keaktifan dan kreativitas Peserta

  Didik meningkat

- mengimplementasikan model pembelajaran

  System Among dan berpusat kepada Peserta  

  Didik sesuai kodrat anak bermain.

- Menanamkan kemandirian dengan membekali           

  Peserta didik dengan ketrampilan/skill.                          

                                                                                                   

Tolak Ukur                                                                           

* Terciptanya pembelajaran aktif,inovatif,kreatif,

   Dan menyenangkan

* Tergalinya bakat dan kemampuan peserta didik

   Yang terampil, dalam berbicara, menulis dan

   membaca

* Terbentuknya Peserta didik yang mandiri dan

    Memiliki budi pekerti luhur serta memiliki

    Ketrampilan/ kecakapan hidup.

Sunday, November 1, 2020

Cara Menggunakan Aplikasi Let’s Read

 



By Asih Andriyani

 

Dalam penggunaan aplikasi Let’s Read sangatlah mudah. Apalagi bagi anak-anak zaman now. Mereka tidak asing lagi dengan barang yang Namanya gadget.

1.       Cara memasang Aplikasi Let’s Read

ü  Buka aplikasi google Play

ü  Klik tombol pencarian

ü  Ketik “Let’s read” di kolom pencarian

ü  Pilih aplikasi Let’s Read yang berlogo gajah

ü  Tekan tombol “instal”

2.       Cara menggunakan aplikasi Let’s Read pertama kali

ü  Pilih Bahasa Indonesia sebagai bahan pengantar

ü  Lalu tekan tombol panah untuk melanjutkan

ü  Pilih Bahasa Indonesia untuk menampilkan buku berbahasa Indonesia

ü  Pilih “ya, izinkan” agar buku dapat disimpan di ponselmu

ü  Pilih Kembali “izinkan” untuk mengkonfirmasi

ü  Lalu tekan tombol ceklist untuk melanjutkan

3.       Cara membaca buku

·         Buka aplikasi Let’s Read

·         Pilih buku dengan menekan gambar sampul buku

·         Pilih tombol buku berwarna orange

·         Geser ke kanan atau ke kiri untuk membolak balik halaman

4.       Cara memperbesar teks atau gambar

·         Sentuh gambar yang ingin diperbesar

·         Sentuh Kembali gambar tersebut 2x untuk memperbesar

·         Untuk Kembali ke halaman, sentuh di luar gambar

·         Pada saat membaca usap layer ke bawah hingga muncul menu diatas layer

·         Tekan ikon “A” di pojok layer

·         Pilih ukuran yang diinginkan

·         Pilih “BAIK” untuk Kembali ke halaman yang sedang dibuka

5.       Cara mengunduh buku

Ø  Pergi ke halaman utama

Ø  Pilih buku yang ingin diunduh

Ø  Tekan tombol panah kebawah di samping judul buku

Ø  Lalu tekan tombol “UNDUH” untuk mengunduh

Ø  Tunggu unduhan selesai hingga muncul ceklist hijau

Ø  Pilih “Buku Moda Offline” untuk melihat buku yang sudah diunduh

6.       Cara mencari buku

Ø  Buka aplikasi Let’s Read

Ø  Sentuh ikon kaca pembesar

Ø  Sentuh tanda panah yang pertama untuk memilih berdasarkan Bahasa

Ø  Sentuh tanda panah yang kedua untuk memilih berdasarkan tingkat kesulitan

Ø  Sentuh tanda panah yang ketiga untuk memilih berdasarkan tema

Tuesday, October 27, 2020

KESIMPULAN DAN REFLEKSI PEMIKIRAN KI HADJAR DEWANTARA


Sintesis Berbagai Materi            Pengajaran menurut Ki hadjar Dewantara adalah pendidikan yang merdeka. Menurut beliau, Pendidikan yang Merdeka adalah pendidikan yang menyenangkan. Tidak membebani peserta didik. Mengapa Ki Hadjar Dewantara menerapkan konsep demikian?. Hal itu berkaitan dengan pengajaran pada masa kolonial Belanda. Warga pribumi, tidak semua merasakan yang namanya pendidikan. hanya kalangan tertentu yang dapat merasakan pengajaran. Dan nantinya mereka juga akan menjadi buruh pabrik atau pegawai bagi kolonial Belanda. Warga pribumi yang mendapatkan pengajaran, mereka belajar dengan penuh tekanan. Dengan istilah lain, meskipun mendapat pendidikan, konsep yang diterpakan dengan memaksa.

            Oleh karena itu, Ki Hadjar Dewantara membuat konsep pendidikan yang merdeka. Baik merdeka secara lahir, batin dan mental. Meskipun merdeka, namun masih dalam batas ketertiban dan kedamaian. Sehingga tetap terwujud adanya sikap saling menghormati, menghargai, kedamaian, gotong royong, disiplin, tanggung jawab  dan keselarasan. 

            Makna Pendidikan menurut KHD, pendidikan bukan hanya sekedar mentransfer ilmu, menciptakan kecerdasan dan pengetahuan saja. Namun, pendidikan mempunyai arti yang cukup luas. Beliau mengatakan pendidikan adalah kebudayaan. Pendidikan merupakan tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Untuk menciptakan manusia yang beradab, mereka mampu menggali potensi, kreatif, inovatif dan harus berkarakter baik.
Adapun tujuan yang harus dicapai oleh Ki Hadjar Dewantara yakni terbentuknya masyarakat Indonesia yang merdeka dan mandiri. Sehingga lahirnya manusia yang berbudi pekerti luhur, yang mampu mengembangkan Cipta, Rasa, dan Karsa secara seimbang.

            Materi pembelajaran menurut pengajaran Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan berbudi pekerti luhur. Dengan berpedoman kepada Trilogi pendidikan, Keluarga, Sekolah, dan Lingkungan Masyarakat. seiring dengan semboyan KHD, Ing Ngarsa sung Tuladha, Ing Madya mangun karsa, Tutwuri Handayani.  yang memiliki makna: Ing Ngarsa sung Tuladaha, yang di depan memberikan contoh yang baik. Ibaratnya, seorang Guru harus mempunyai sikap dan perilaku yang baik. Karena segala gerak-geriknya akan di contoh oleh peserta didiknya. apapun yang dilakukan oleh guru, akan digugu lan ditiru. Ing Madya Mangun Karsa, yang ditengah membangun semangat. Dijelaskan, sebagai peserta didik harus mempunyai semangat untuk terus belajar. Agar dapat terus berkreasi dan berinovasi, dalam mengembangkan ide. dan juga, tetap mempertahankan semangatnya bagi dirinya sendiri. Tutwuri Handayani, yang di belakang akan memberingan dorongan. Guru dan Orangtua harus bersinergi untuk terus memotivasi anak dan peserta didiknya. selalu memberikan semangat dan arahan, guna pkemajuan pendidikan peserta didik. 

            Guru bertindak sebagai penuntun bagi peserta didiknya. Sehingga, menurut KHD pengajaran harus menggunakan sistem Among. Guru harus bersikap Asah, Asih dan Asuh. dengan berbagai teknik, guru mendekati peserta didik, dengan menggali potensi yang dimiliki oleh anak.  Tiga metode yang ditanamkan yakni Ngerti, Ngrasa dan Nglakoni. Guru harus mengerti keadaan peserta didiknya. Selain itu, guru juga harus ikut merasakan dan memahami tentang apa yang dialami oleh peserta didiknya. Nglakoni, guru juga harus mengerjakan dan bertanggung jawab dengan tugasnya.


Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan?

            Sebelum saya mengikuti kegiatan Program Guru Penggerak, saya berpikir menjadi seorang guru cukup dengan mengajarkan pengetahuan dan menanamkan karakter anak yang baik. Peserta didik harus mengerti apa yang diinginkan oleh gurunya. sehingga, peserta didik harus taat dan patuh dengan guru. Diibaratkan, guru harus menggambar menurut keinginannya kepada peserta didik. Perlakuan kepada peserta didik hampir disamaratakan.  Jika hal itu terus diterapkan, apa bedanya zaman kolonial dengan zaman sekarang ini?

Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan?

            Setelah saya belajar dan mengkaji modul tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan, pola pikir saya mulai berubah. Mata saya sudah dibukakan, bahwa guru dalam proses pembelajaran harus menjadi teladan. Guru bertindak untuk menuntun peserta didik sesuai dengan Kodratnya. dimana kodrat anak adalah bermain, maka guru harus pandai memberikan pengajaran yang menyenangkan. dan juga, guru harus berhamba kepada anak. sehingga guru tidak memaksanakan keinginannya kepada peserta didik. guru harus mampu mengembangkan potensi anak yang dimilikinya. Bauik secara kogniti, afektif dan psikomotorik. selarasa dengan pengajaran yang menyeimbangkan anatar Cipta, Rasa dan Karsa. Supaya mampu melahirkan peserta didik yang cerdas, kreatif dan berbudi pekerti luhur atau mempunyai akhlak yang mulia. 

Apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik lagi agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD?

            Dalam proses pembelajaran, saya harus melaksanakan kegiatan yang aktif,inovatif, kreatif, empati dan menyenangkan. Serta mampu melahirkan peserta didik yang mandiri. Dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan mempunyai keahlian. Peserta didik juga dapat membantu dan meningkatkan perekonomian keluarga, dengan mengangkat kearifan budaya lokal.

               

Monday, September 3, 2018

Membaca 15 menit sebelum pembelajaran

Kegiatan membaca lima belas menit dilakukan setiap hari, namun guru tidak perlu memberikan pertanyaan tentang isi buku setiap hari. Pada tahap pembiasaan, prinsip TANPA TAGIHAN harus dijaga agar tujuan penumbuhan minat baca peserta didik bisa dicapai. Kegiatan bertanya tentang isi buku bisa dilakukan sesekali, misalnya: 2–3 minggu sekali. Selain itu, sifatnya opsional dan tanpa paksaan. Meskipun begitu, guru bisa memberikan apresiasi bila peserta didik mau menjawab pertanyaan guru. Contoh apresiasi antara lain: stiker, sebutir permen, atau sepotong kue. Bahkan satu kalimat pujian saja sudah mampu memotivasi peserta didik untuk semakin giat membaca. Tahap Pengembangan Pada tahap pengembangan, guru bisa menggunakan tabel atau peta cerita sebagai kegiatan tindak lanjut. Semua peserta didik didorong untuk menuliskan ringkasan cerita/buku dan respon mereka di dalam peta cerita/buku. Dalam tahap ini, Mari Bertanya tentang Buku adalah TANPA PENILAIAN AKADEMIK. Untuk mendorong dan memberikan apresiasi peserta didik atas upaya mereka, peta cerita/buku yang sudah diisi bisa ditempelkan di dinding kelas. Selain itu, peserta didik juga bisa diminta menyampaikan isian peta cerita/buku kepada teman dalam kelompok atau di depan kelas. Kegiatan semacam ini bisa digunakan sebagai PENILAIAN NONAKADEMIK. Tahap Pembelajaran Tahap pembelajaran berarti bahwa peserta didik sudah terbiasa dengan rutinitas kegiatan membaca lima belas menit selama kurun waktu tertentu. Diskusi tentang isi buku juga sudah sering dilakukan di kelas. Dengan kata lain, peserta didik sudah memiliki persepsi membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Dengan demikian, daftar pertanyaan dan peta cerita/buku bisa dikembangkan menjadi bagian pembelajaran bahasa dan menjadi TAGIHAN AKADEMIK.

pengembangan Karakter Bangsa

18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter menurut Diknas adalah: 1. Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. 2. Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. 3. Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. 4. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 5. Kerja Keras Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 6. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. 7. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. 8. Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. 9. Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. 10. Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. 11. Cinta Tanah Air Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. 12. Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. 13. Bersahabat/Komunikatif Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. 14. Cinta Damai Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. 15. Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. 16. Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. 17. Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. 18. Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa

Membangun Budaya Literasi

Pendidikan yang berkualitas menjadi kebutuhan penting di era persaingan global yang kian kompetitif. Para pengambil kebijakan di tingkat pusat pastinya sudah menyadari akan hal tersebut. Untuk menjadikan dunia pendidikan berkualitas, tentu sangat banyak faktor yang berkaitan dan saling mempengaruhi. Salah satu upaya pemerintah menjadikan pendidikan berkualitas adalah melalui meningkatkan budaya literasi (membaca dan menulis). Pemerintah melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 telah menyadari pentingnya penumbuhan karakter peserta didik melalui kebijakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Namun untuk menyukseskan rencana besar ini, tidak bisa instant dan bersifat temporary. Yang akan dibangun itu adalah kebiasaan, maka dibutuhkan suatu pembiasaan yang harus terus menerus dilakukan sejak usia dini dan untuk itu konsistensi sangat diperlukan. Semua elemen bangsa ini harus menyadari bahwa budaya baca-tulis bangsa kita saat ini sangat rendah. Sejak era kecanggihan teknologi saat ini, maka hal yang menjadi daya tarik bagi anak-anak kita bukanlah lagi buku, namun gawai, dan televisi. Coba saja lihat di rumah kita dan lingkungan sekitar. Anak-anak merunduk bermain game atau aktif di dunia medsos melalui gawainya . Sudah jarang sekali membaca buku-buku baik pelajaran, komik, buku pengetahuan umum atau jenis buku apa pun. Saya masih ingat kenangan masa kecil, dimana bahan bacaan untuk anak ketika itu cukup mudah dijumpai dan marak, meski didominasi dari bahan bacaan impor. Namun setidaknya cukup mendorong minat baca pada anak anak ketika itu. Untuk menumbuhkan budaya membaca di masyarakat, kita bisa meniru negara Vietnam. negara ini pernah mengalami konflik perang saudara berkepanjangan, dan saat ini sudah lebih dulu menyadari pentingnya mereformasi dunia pendidikannya melalui membaca. Melalui metode gerakan masyarakat mengumpulkan donasi dan buku, serta menyebarkan melalui pendirian perpustakaan di seluruh pelosok negara tersebut. Dan kita bisa melihat hasilnya saat ini yaitu kemajuan negara Vietnam yang cukup pesat di Asia Tenggara. Indonesia tidak boleh kalah dalam hal ini, karena mengingat sumberdaya manusia Indonesia sangat berpotensi menjadi yang terdepan tidak hanya di kawasan Asia Tenggara, namun di lingkup Asia bahkan Dunia. Untuk itu, gerakan literasi yang sekarang ini marak, tidak hanya dibebankan tanggung jawabnya kepada pemerintah semata. Karena untuk membangun suatu kebiasaan justru dimulai dari unit terkecil di masyarakat yaitu keluarga. Saya belum memiliki data ilmiah tentang upaya penumbuhan budaya membaca di keluarga, tapi saya meyakini bahwa keluarga di Indonesia (baik di perkotaan, apalagi di pedesaan), masih belum sepenuhnya menyadari pentingnya budaya membaca apabila dilihat dari indikator persentase pengeluaran keluarga untuk membeli buku. Dari indeks membaca, rata-rata penduduk Indonesia hanya membaca 4 judul buku setahun dan masih jauh dari standar UNESCO yaitu 7 judul buku dalam setahun. Indonesia masih memiliki peringkat yang rendah dalam indeks membaca. Dari 65 negara Indonesia berada pada peringkat 60 dan masih di bawah Malaysia. Berdasarkan data tersebut, sudah bisa terlihat bahwa Indonesia masih jauh ketinggalan dari negaranegara lain, bahkan dari Malaysia yang konon puluhan tahun lalu, banyak mengimpor guru dari Indonesia, dan berguru pada bangsa kita, namun mengapa sekarang Indonesia ketinggalan? Miris. Selain di keluarga, membangun budaya membaca harus dimulai dari Sekolah. Mengapa Sekolah? Karena sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang berperan sangat penting bagi pengembangan potensi sumber daya manusia. Namun harus kita akui secara jujur, bahwa secara umum kegiatan intelektual membaca dan menulis belum menjadi tradisi di sekolah. Bahkan di lingkungan sekolah yang notabene merupakan sebuah komunitas akademik, kegiatan membaca dan menulis di kalangan guru maupun siswa masih rendah. Mungkin tradisi membaca dan menulis masih agak lumayan muncul di kalangan perguruan tinggi. Padahal sejak jaman Belanda, tradisi intelektual ini sudah dimunculkan sejak tingkat sekolah. Siswa AMS (sekolah Belanda) diwajibkan harus membaca 25 judul buku sebelum mereka lulus. Dengan kebijakan seperti itu kita bisa melihat hasilnya yaitu tradisi intelektual yang kuat dari para tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan yang mencicipi sistem persekolahan Belanda tersebut. Saat ini tradisi membaca dan menulis harus terus dikembangkan mengingat bahwa melalui membaca, maka kemajuan pendidikan akan lebih pesat. Kemudian melalui kegiatan menulis, ide, gagasan, serta ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Melalui tulisan ide dan gagasan, akan lebih dikenang sepanjang masa dibandingkan hanya terucapkan secara lisan yang mudah hilang selepas gagasan tersebut dilontarkan. Kebiasaan membaca dan menulis harus terus ditumbuhkan di sekolah-sekolah sebagai dunia akademik, mengingat saat ini pemerintah telah mengeluarkan peraturan bahwa guru yang akan naik pangkat dituntut harus menghasilkan karya tulis. Jauhkan cara-cara yang tidak bermartabat sebagai pendidik melalui budaya plagiat atau men-subkontrakkan pembuatan karya tulis pada pihak-pihak penjual jasa pembuatan karya tulis yang marak iklannya di berbagai media online. Dengan memiliki keterampilan menulis, maka guru akan menghemat pengeluaran dalam pembuatan karya tulis dan lebih memiliki rasa percaya diri dan menjaga harkat dan martabat diri. Dibutuhkan visi dan misi yang sama dari komponen masyarakat yang ada untuk membangun koalisi literasi. Koalisi ini dibutuhkan sebagai perekat untuk menyatukan kepingan potensi yang terserak sehingga gerakan membaca dan menulis dimulai dari sebuah gerakan skala mikro masyarakat di tingkat daerah hingga menjadi gerakan skala makro di tingkat nasional. Untuk percepatan terbentuknya koalisi budaya membaca dan menulis ini, nampaknya dibutuhkan kesungguhan dari para pengambil kebijakan (pemerintah) hingga masyarakat agar kebiasaan membaca dan menulis ini menjadi suatu kebutuhan baik di tingkat keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kunci keberhasilan terletak pada kesungguhan dengan menghilangkan ego sektoral dengan merasa dirinya yang paling berhak, dan mulai saling bergandeng tangan untuk berbuat apa saja yang dapat kita lakukan, berkontribusi sekecil apa pun dari semua elemen masyarakat. Saya meyakini bahwa maju mundurnya program literasi bukan terletak di tangan pemerintah semata namun sinergi dengan masyarakat. Kesuksesan gerakan membaca dan menulis ini bukan tanggung jawab saya, atau Anda, tapi tanggung jawab kita. Melalui kerja bersama-sama, maka apa pun kesulitannya akan menjadi mudah untuk dilalui. Cara-cara yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis di lingkungan keluarga adalah: Kebiasaan memberi hadiah kepada anak berupa buku, sering mengajak anak jalan-jalan ke pameran atau toko buku, sisihkan sedikit pengeluaran untuk membeli buku minimal enam bulan sekali, orangtua sebagai role model dengan sering membaca dan menulis di rumah. Hal yang dapat dilakukan di lingkungan masyarakat, antara lain dengan: Mendirikan banyak komunitaskomunitas yang peduli literasi, Membangun sebanyak mungkin perpustakaan atau taman bacaan masyarakat dari mulai tingkat RT/RW. Di lingkungan sekolah, gerakan membaca dapat dilakukan dengan mengoptimalkan kembali fungsi perpustakaan di tiap sekolah sejak tingkat Pra Sekolah (TK) hingga Sekolah Menengah. Letakkan posisi perpustakaan pada tempat strategis di lingkungan sekolah yang mudah dilihat, terjangkau, dan menyenangkan. Selama ini posisi perpustakaan di setiap sekolah nampaknya lebih banyak di tempat-tempat yang tersembunyi, sehingga jarang dikunjungi peserta didik. Untuk mendorong menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis bagi guru, maka pemerintah harus mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kemudahan bagi guru dalam memperoleh dan mengakses buku-buku. Berikan diskon harga khusus bagi guru-guru dalam membeli buku, dan berikan insentif untuk membantu mendorong penerbitan buku-buku yang ditulis oleh guru. Para guru hendaknya menjadi role model bagi peserta didik dengan banyak menghasilkan karya berupa artikel ilmiah, populer, maupun buku-buku. Selain itu, para kepala sekolah dan pengawas memberikan contoh dan teladan bagi para guru dengan banyak berkarya dan menghasilkan berbagai artikel tulisan dan buku-buku. Hal ini menjadi motivasi dan inspirasi yang penting bagi para guru. Memang kebiasaan membaca tidak mudah untuk ditumbuhkan di zaman ini, mengingat jaman kecanggihan teknologi saat ini, ketertarikan anak-anak lebih kepada medi daripada kepada buku, kemudian waktu anak lebih banyak dihabiskan di depan televisi dibandingkan untuk membaca. Namun saya meyakini, bahwa melalui gerakan bersama dari seluruh elemen masyarakat, maka suatu saat gerakan literasi ini akan menunjukkan keberhasilan dalam menumbuhkan budaya membaca yang pesat pada bangsa ini, sehingga kualitas sumber daya manusia Indonesia akan meningkat dan sejajar dengan negara maju di dunia. Literasi bukanlah urusan saya dan Anda, tetapi literasi adalah urusan kita. Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? Dan mau menunggu sampai kapan?